Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

 Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Aku membaca kehidupan untuk memahami manusia.

Buka di sini.

Aku membaca manusia untuk memahami diriku.

Buka di sini.

Aku membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku.

Baca di sini.

Dan ketika aku sampai pada batas diriku, aku mulai mencari Tuhan.

Baca di sini.

Namun mungkin, pencarian kepada Tuhan bukanlah perjalanan menuju sesuatu yang sebelumnya sama sekali tidak ada di hadapanku. Barangkali selama ini Tuhan tidak pernah jauh; hanya kesadaranku yang belum mampu membaca tanda-tanda-Nya.

Baca di sini.

Aku membaca alam, lalu menemukan keteraturan.

Baca di sini.

Aku membaca kehidupan, lalu menemukan ketetapan dan perubahan.

Klik di sini.

Aku membaca manusia, lalu menemukan kehendak, kelemahan, cinta, kesombongan, dan kerinduan.

Baca di sini.

Aku membaca diriku, lalu menemukan sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya mampu kukenal.

Klik di sini.

Di situlah akal mulai bertanya kepada dirinya sendiri:

Sejauh mana aku mampu mengetahui?

Klik di sini.

Dan siapakah aku sehingga merasa telah mengetahui?

Klik di sini.


Barangkali manusia tidak pernah benar-benar sampai kepada Tuhan hanya dengan membaca dunia. Tetapi melalui dunia, manusia dapat menemukan tanda-tanda yang mengantarkannya untuk kembali kepada-Nya.

Klik di sini.

Maka ilmu tidak seharusnya berhenti pada pengetahuan. Ia semestinya bergerak menuju kesadaran. Pengetahuan yang membuat manusia merasa paling tahu dapat melahirkan kesombongan; tetapi pengetahuan yang membuat manusia sadar akan keterbatasannya dapat melahirkan hikmah.

Jembatan.

Di sinilah akal dan qalb bertemu.

Klik di sini.

Ilmu bertemu pengalaman.

Klik di sini.

Filsafat bertemu perenungan.

Klik di sini.

Adat bertemu syarak.

Klik di sini.

Alam bertemu manusia.

Klik di sini.

Dan manusia akan berhadapan dengan Tuhannya.

Klik di sini.

Alam takambang jadi guru mengajarkan manusia membaca tanda-tanda kehidupan.

Klik.di sini.

Klik.di simi.

Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah memberikan arah agar pembacaan itu tidak kehilangan nilai dan sumber kebenaran.

Klik di sini.

Akal mempertanyakan.

Qalb merasakan.

Ilmu menjelaskan.

Hikmah menuntun.

Klik di sini..

Pada akhirnya, semakin luas manusia membaca dunia, semakin dalam ia membaca dirinya sendiri. Dan semakin dalam ia mengenal dirinya, semakin jelas pula keterbatasannya.

Klik di sini.

Mungkin di situlah letak salah satu makna terdalam dari pencarian spiritual:

Bukan semakin merasa telah menemukan Tuhan, tetapi semakin sadar bahwa tanpa petunjuk-Nya, manusia bahkan tidak sepenuhnya mampu mengenal dirinya sendiri.

Klik di sini.

Karena itu perjalanan manusia dapat diringkas dalam satu gerak:

Membaca teks → membaca budaya → membaca alam → membaca kehidupan → membaca manusia → membaca diri → menyadari keterbatasan → mencari Tuhan.

Dan pada akhirnya pertanyaan yang tersisa bukan lagi sekadar:

“Siapakah Tuhan?”

Klik di sini.

Tetapi:

“Siapakah aku di hadapan Tuhan?”

Barangkali di sanalah ilmu mulai berubah menjadi hikmah, pengetahuan berubah menjadi kesadaran, dan pencarian berubah menjadi perjalanan pulang kepada-Nya.

Wassalam HADARMI

Penulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.