Bukan semakin merasa telah menemukan Tuhan, tetapi semakin sadar bahwa tanpa petunjuk-Nya, manusia bahkan tidak sepenuhnya mampu mengenal dirinya sendiri.

Bukan semakin merasa telah menemukan Tuhan, tetapi semakin sadar bahwa tanpa petunjuk-Nya, manusia bahkan tidak sepenuhnya mampu mengenal dirinya sendiri.

Manusia dapat membaca alam, mempelajari ilmu, memahami sejarah, dan mengamati dirinya sendiri. Namun kemampuan itu tetap terbatas. Akal dapat bertanya, ilmu dapat menjelaskan, pengalaman dapat memperkaya, tetapi manusia tetap bisa keliru dalam memahami siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.


Karena itu, pencarian kepada Allah bukanlah perjalanan untuk "menemukan Tuhan" seolah-olah Tuhan sebelumnya tidak ada.


Lebih tepat:


> Manusia sedang belajar membuka kesadarannya terhadap petunjuk Tuhan yang selalu melampaui dirinya.




Di sinilah hubungan antara akal, qalb, ilmu, dan wahyu menjadi penting:


Akal mempertanyakan.

Ilmu menyelidiki.

Qalb menghayati.

Wahyu memberi petunjuk.

Hikmah menuntun tindakan.


Semakin dalam seseorang mengenal dirinya, semakin ia menyadari:


> Aku tidak menciptakan diriku sendiri.

Aku tidak menentukan seluruh perjalanan hidupku.

Aku tidak mengetahui seluruh hakikat keberadaanku.

Aku membutuhkan petunjuk di luar keterbatasan diriku.




Maka mengenal diri dapat menjadi jalan menuju kesadaran tentang ketergantungan kepada Allah.


Dalam ungkapan yang lebih filosofis:


> Aku membaca alam untuk memahami keteraturan.

Aku membaca manusia untuk memahami kehidupan.

Aku membaca diriku untuk memahami keterbatasanku.

Dan ketika sampai pada batas diriku, aku menyadari bahwa aku membutuhkan petunjuk dari Yang Tidak Terbatas.




Di titik itu, ma'rifat bukan klaim bahwa "aku telah menemukan Tuhan", melainkan kesadaran yang semakin dalam bahwa tanpa Allah dan petunjuk-Nya, pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri pun tidak pernah sempurna. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.