Membaca manusia untuk memahami diriku” bahkan lebih dalam daripada sekadar membaca kehidupan.

 “Membaca manusia untuk memahami diriku” bahkan lebih dalam daripada sekadar membaca kehidupan.


Manusia yang kita temui sebenarnya dapat menjadi cermin. Ketika kita melihat kesabaran orang lain, kita bertanya: seberapa sabarkah aku? Ketika melihat kesombongan, kita bertanya: jangan-jangan ada kesombongan yang tersembunyi dalam diriku? Ketika melihat kebaikan, kita bertanya: mengapa aku belum mampu berbuat seperti itu?.

Kita belajar memahami diri melalui pantulan orang lain. Ada manusia yang mengajarkan kita tentang cinta. Ada yang mengajarkan tentang pengkhianatan. Ada yang mengajarkan tentang keikhlasan. Ada yang mengajarkan tentang kesabaran. Ada pula yang hadir justru untuk memperlihatkan bagian diri kita yang belum kita kenal.

Karena itu, membaca manusia bukan berarti sibuk mencari kesalahan orang lain. Justru sebaliknya:

Semakin kita mampu membaca manusia tanpa tergesa-gesa menghakimi, semakin kita belajar membaca diri sendiri.

Dan pada akhirnya, perjalanan itu membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam:

Siapakah aku di balik nama, jabatan, harta, penampilan, pikiran, emosi, dan segala peran yang aku jalankan?.

Di situlah muhasabah bermula.

 Aku membaca manusia untuk memahami diriku. Aku membaca diriku untuk memahami kelemahanku. Aku memahami kelemahanku agar tidak sombong. Aku mengenal diriku agar mengenal batas diriku. Dan semakin aku mengenal diriku, semakin aku menyadari bahwa aku adalah makhluk yang membutuhkan Allah.

Mungkin perjalanan mengenal manusia pada akhirnya bukan perjalanan menjauh dari manusia, melainkan perjalanan menembus diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.