Semakin luas manusia membaca dunia, semakin dalam ia membaca dirinya sendiri. Dan semakin dalam ia mengenal dirinya, semakin jelas pula keterbatasannya.

Semakin luas manusia membaca dunia, semakin dalam ia membaca dirinya sendiri. Dan semakin dalam ia mengenal dirinya, semakin jelas pula keterbatasannya.




Manusia mula-mula membaca alam: melihat keteraturan, perubahan, kehidupan, kematian, dan hubungan sebab-akibat.


Kemudian ia membaca masyarakat: memahami adat, sejarah, kekuasaan, konflik, ilmu, dan berbagai cara manusia membangun kehidupan.


Setelah itu ia mulai membaca dirinya sendiri: mengenali keinginan, ketakutan, kesombongan, kelemahan, pengetahuan, dan keterbatasan akalnya.


Di titik itu, ilmu tidak lagi hanya membuat manusia berkata:


> "Aku tahu."




Tetapi justru membuatnya mampu berkata:


> "Ternyata masih banyak yang belum aku ketahui."




Di situlah kerendahan hati intelektual lahir.


Dan ketika manusia sampai pada batas akalnya, muncul pertanyaan yang lebih dalam:


> Jika aku terbatas, dari mana datangnya keteraturan yang melampaui keterbatasanku?

Jika pengetahuanku terbatas, dari mana sumber kebenaran yang tidak terbatas?

Jika hidupku sementara, apa makna keberadaanku?




Maka perjalanan membaca dapat bergerak:


Membaca alam → membaca kehidupan → membaca manusia → membaca diri → menyadari keterbatasan → mencari hikmah → mengenal Tuhan.


Dalam bahasa yang sangat sederhana:


> Akal membawa manusia untuk bertanya.

Ilmu menunjukkan batas pengetahuan.

Qalb menyadarkan makna.

Hikmah mengajarkan bagaimana bersikap.

Dan kesadaran akan keterbatasan membawa manusia kepada kerendahan hati di hadapan Allah.




Jadi, mengenal diri bukan berarti menemukan bahwa manusia tidak berarti, tetapi menemukan bahwa manusia memiliki batas, namun diberi kemampuan untuk menyadari batas tersebut.


Dan mungkin justru di situlah salah satu pintu terbesar menuju ma'rifat: bukan ketika manusia merasa telah mengetahui segala sesuatu, tetapi ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan Yang Maha Mengetahui. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.