Alam takambang jadi guru
Alam takambang jadi guru
Ini menjadi pengikat penting dari seluruh rangkaian pemikiran kita. Jika alam takambang jadi guru mengajarkan manusia membaca tanda-tanda kehidupan.
Maka adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah memberikan arah, ukuran, dan batas agar hasil pembacaan itu tidak berhenti pada kebijaksanaan manusia semata.
Alam dapat mengajarkan manusia tentang keteraturan, tetapi wahyu memberikan orientasi tentang bagaimana keteraturan itu harus dimaknai dalam kehidupan manusia.
Karena itu, rangkaiannya dapat dipahami:
Alam takambang jadi guru → manusia belajar membaca kehidupan.
Akal → manusia menalar apa yang dibacanya.
Qalb → manusia menghayati maknanya.
Ilmu → manusia menguji dan menjelaskannya.
Perenungan → manusia menyadari keterbatasannya.
Adat → nilai itu diwujudkan dalam kehidupan bersama.
Syarak → memberi pedoman dan batas.
Kitabullah → menjadi sumber orientasi wahyu.
Di sinilah ungkapan Minangkabau itu menjadi sangat dalam:
Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Bukan berarti setiap kebiasaan adat otomatis menjadi kebenaran agama. Justru adat perlu terus dibaca, diuji, dan diselaraskan dengan syarak.
Dengan demikian, manusia tidak hanya bertanya:
Apa yang dapat kupelajari dari alam?
tetapi juga:
Apa yang harus kulakukan setelah mempelajarinya?.
Dan jawabannya tidak cukup hanya berasal dari pengalaman manusia. Ia memerlukan nilai, wahyu, akhlak, dan pertanggungjawaban kepada Allah.
Maka seluruh perjalanan ini akhirnya membentuk sebuah lingkaran yang setiap.manusia bisa menjalaninya:
Alam memberi tanda → manusia membaca → akal memahami → qalb merenungkan → ilmu menguji → pengalaman memperdalam → filsafat mempertanyakan → adat membentuk kehidupan → syarak memberi arah → Kitabullah menjadi sumber petunjuk → sehingga manusia kembali berhadapan dengan Tuhannya.
Dan di titik terakhir itu, manusia menyadari:
Aku membaca alam, tetapi alam bukan Tuhan.
Aku membaca diriku, tetapi aku bukan Tuhan.
Aku memperoleh ilmu, tetapi ilmuku terbatas.
Aku mengalami, tetapi pengalamanku bukan wahyu.
Aku beradat, tetapi adat bukan sumber kebenaran tertinggi.
Aku beragama, tetapi aku tetap seorang hamba.
Maka semakin jauh manusia membaca, seharusnya semakin dalam ia tunduk kepada Yang menjadi sumber segala tanda.
Komentar
Posting Komentar