Alam bertemu manusia.

 Alam bertemu manusia.

 Adalah pertemuan antara yang diciptakan dan yang diberi kemampuan untuk membaca ciptaan.

Alam bukan hanya tempat manusia hidup. Ia juga menjadi ayat kauniyah—tanda-tanda yang mengajak manusia berpikir, merenung, dan mengenal keterbatasan dirinya.

Allah berfirman:

 وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ ۝ وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin. Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?(QS. Adz-Dzariyat 51:20–21).

Di sini terjadi dua pembacaan:

Alam dibaca oleh manusia.

Manusia menemukan keteraturan, keseimbangan, perubahan, kehidupan, kematian, dan keterbatasan.

Manusia kemudian membaca dirinya sendiri.

Ia menyadari bahwa dirinya bukan pusat segala sesuatu. Ia bagian dari alam, bergantung pada alam, tetapi sekaligus memiliki kemampuan untuk bertanya tentang makna keberadaannya.

Maka:

 Alam mengajarkan keteraturan.

Manusia mencari makna.

Akal membaca tanda.

Qalb merenungkan makna.

Wahyu menunjukkan arah.

Dalam pandangan Islam, alam bukan Tuhan dan manusia bukan Tuhan. Alam adalah ciptaan, manusia adalah hamba, dan keduanya menunjuk kepada Sang Pencipta.

Karena itu, perjalanan pemikiran kita semakin membentuk satu rangkaian:

Alam bertemu manusia.

Akal bertemu qalb.

Ilmu bertemu pengalaman.

Filsafat bertemu perenungan.

Adat bertemu syarak.

Pengetahuan bertemu kesadaran.

Manusia membaca tanda-tanda Allah.

Dan pada akhirnya manusia sampai pada pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling dalam:

Jika alam begitu teratur, dan diriku adalah bagian dari keteraturan itu, siapakah aku di hadapan Yang Mengadakan segala sesuatu?”

Mungkin di situlah membaca alam berubah menjadi membaca diri, dan membaca diri akhirnya mengantar manusia kepada pencarian Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.