Akal dan qalbu

Gagasan akal dan qalb menjadi sangat penting. Keduanya tidak harus dipertentangkan.


Akal membaca, qalb menghayati.

Akal membedakan, qalb menyadari.

Akal mencari alasan, qalb mencari makna.

Akal menguji klaim, qalb menguji kejujuran diri.

Al-Qur’an bahkan menggunakan bahasa yang menarik:

 لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا

Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami.(QS. Al-A'raf 7:179).

Artinya, qalb dalam Al-Qur’an bukan sekadar tempat perasaan. Ia juga berkaitan dengan pemahaman, kesadaran, dan penerimaan terhadap kebenaran.

Sementara akal memiliki fungsi untuk menimbang dan membedakan. Karena itu, keduanya dapat berjalan bersama:

Akal tanpa qalb dapat menghasilkan pengetahuan yang dingin, bahkan kesombongan intelektual.

Qalb tanpa akal dapat membuat pengalaman subjektif diterima tanpa kritik dan mudah berubah menjadi klaim yang tidak teruji.

Tetapi ketika keduanya bertemu:

 Akal menjaga agar pencarian tidak tersesat.

Qalb menjaga agar pengetahuan tidak menjadi kesombongan.

Maka perjalanan manusia menjadi lebih utuh:

Membaca alam dengan akal → membaca diri dengan qalb → menyadari keterbatasan → menerima petunjuk wahyu → mengubah pengetahuan menjadi hikmah → kembali kepada Allah sebagai hamba.

Dan mungkin pada titik itu manusia tidak lagi bertanya:

 “Seberapa banyak aku telah mengetahui Tuhan?”

Tetapi:

 “Seberapa jauh pengetahuanku tentang Tuhan telah mengubah diriku?”

Itulah titik pertemuan akal, qalb, ilmu, iman, dan tazkiyah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.