Dalam falsafah Minangkabau, “Alam takambang jadi guru

Dalam falsafah Minangkabau, “Alam takambang jadi guru” 

Dapat dibaca bukan sekadar sebagai ungkapan tentang belajar dari alam, tetapi sebagai metode membaca kehidupan.


Alam menjadi ruang pembelajaran; manusia menjadi pembaca; pengalaman menjadi bahan renungan; dan akal serta qalb menjadi alat untuk memahami maknanya.


Al-Qur’an juga mengarahkan manusia untuk memperhatikan tanda-tanda Allah pada alam:


> إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ... لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ


“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi ... terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

(QS. Ali 'Imran 3:190)

Di sinilah falsafah alam takambang jadi guru dapat berdialog dengan konsep ayat kauniyah dalam Islam.


Manusia memperhatikan:


air mengajarkan mengalir,

gunung mengajarkan keteguhan,

padi mengajarkan kerendahan ketika berisi,

pohon mengajarkan keseimbangan antara akar dan buah,

siang dan malam mengajarkan pergantian,

kelahiran dan kematian mengajarkan keterbatasan.


Tetapi alam bukan Tuhan.


Alam adalah tanda. Yang harus dibaca bukan hanya bendanya, tetapi hikmah yang dapat dipetik dari keteraturan ciptaan.


Maka ungkapan itu dapat diperdalam:


> Alam takambang jadi guru;

manusia membaca tanda-tandanya;

akal mencari keteraturannya;

qalb merenungkan maknanya;

ilmu menjelaskan gejalanya;

filsafat mempertanyakan hakikatnya;

syarak memberi arah;

dan kesadaran mengantarkan manusia kembali kepada Allah.

Dengan demikian, “alam takambang jadi guru” tidak berhenti pada belajar dari alam, tetapi bergerak menuju belajar tentang diri dan akhirnya menyadari posisi manusia di hadapan Sang Pencipta. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.