Manusia membaca dunia bukan untuk menemukan Allah sebagai objek, melainkan untuk menemukan ayat-ayat atau tanda-tanda-Nya.

Manusia membaca dunia bukan untuk menemukan Allah sebagai objek, melainkan untuk menemukan ayat-ayat atau tanda-tanda-Nya.


Al-Qur’an sendiri mengarahkan manusia kepada dua medan pembacaan:

 سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri.(QS. Fussilat 41:53).

Maka ada perjalanan:

membaca alam → menemukan keteraturan → bertanya tentang sumber keteraturan → membaca diri → menyadari keterbatasan → mencari makna → beriman kepada Allah.

Tetapi ada batas yang harus dijaga:

 Tanda bukanlah Tuhan.

Ciptaan bukanlah Pencipta.

Pengetahuan tentang tanda tidak sama dengan meliputi Zat yang memberi tanda.

Karena itu, kalimat Anda sebelumnya menjadi semakin kuat:

“Dan siapakah aku sehingga merasa telah mengetahui?”

Manusia dapat sampai pada kesadaran tentang Allah, dapat mengenal-Nya melalui wahyu, nama dan sifat-Nya, serta membaca tanda-tanda kekuasaan-Nya. Tetapi manusia tidak pernah menjadikan Allah sebagai objek yang dapat dikuasainya dengan akal.

Bahkan Al-Qur’an mengatakan:

> وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu.(QS. Taha 20:110).

Jadi, mungkin perjalanan manusia bukan:

Dunia → menemukan Tuhan sebagai objek → selesai.

Melainkan:

Dunia → membaca tanda → terbangun kesadaran → mengenal keterbatasan diri → menerima petunjuk wahyu → kembali kepada Allah.

Dan di situlah tasawuf yang sehat bertemu dengan kerendahan hati ilmiah, semakin banyak tanda yang dibaca, semakin sadar bahwa yang diketahui masih jauh lebih kecil daripada Yang Maha Mengetahui.

Klik di sini.

Pembaharuan yang mestinya di lakukan kaum tasawuf.

Klik di sini.

Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.