Kalimat itu menyentuh inti perjalanan batin manusia

Kalimat itu menyentuh inti perjalanan batin manusia:

Ketika aku sampai pada batas diriku, aku mulai mencari Tuhan.

Batas akal membuatku sadar bahwa tidak semua hal dapat kupahami.

Batas kekuatan membuatku sadar bahwa aku tidak selalu mampu.

Batas pengetahuan membuatku sadar bahwa aku tidak mengetahui segala sesuatu.

Batas kehidupan membuatku sadar bahwa aku bukan pemilik keabadian.

Dan ketika segala kemampuan yang selama ini kuandalkan mulai menemukan batasnya, muncul sebuah pertanyaan:

“Jika aku terbatas, kepada siapa aku harus bersandar?”

Di sanalah pencarian kepada Tuhan dimulai.

Bukan karena Tuhan baru ada ketika aku mencarinya, tetapi karena kesadaranku yang baru mulai terbuka untuk menyadari-Nya.

Dalam bahasa spiritual, mungkin perjalanan itu dapat dirangkai demikian:

Membaca kehidupan → memahami manusia → membaca diri → mengenali keterbatasan → menyadari kebutuhan → mencari Tuhan → mengenal-Nya.

Dan semakin manusia mengenal keterbatasan dirinya, semakin ia memahami makna penghambaan.

> Aku mencari Tuhan bukan karena aku telah menemukan semua jawaban, tetapi karena aku telah menyadari betapa terbatasnya diriku dalam mencari jawaban.

Barangkali di situlah awal perjalanan seorang manusia dari “aku” menuju “Engkau”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.