Manusia menuju Tuhan

Manusia menuju Tuhan 

 Jika seluruh rangkaian tadi diteruskan, “manusia berhadapan dengan Tuhannya” adalah titik ketika pencarian tidak lagi sekadar tentang alam, ilmu, filsafat, atau pengalaman, tetapi tentang pertanggungjawaban keberadaan manusia di hadapan Allah.

Al-Qur’an menggambarkan tujuan akhir manusia:

 يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka engkau akan menemui-Nya.(QS. Al-Insyiqaq 84:6).

Tetapi “berhadapan dengan Tuhan” perlu dibedakan dari menguasai atau mengetahui hakikat Zat Allah.

Manusia dapat berhadapan dengan Allah sebagai hamba yang mempertanggungjawabkan hidupnya, bukan sebagai makhluk yang mampu meliputi Zat-Nya.

 Manusia mencari.

Allah memberi petunjuk.

Manusia membaca tanda.

Allah menunjukkan ayat.

Manusia berusaha memahami.

Allah tetap melampaui seluruh pemahaman makhluk.

Dan akhirnya, semua perjalanan tadi seperti kembali kepada satu titik:

Alam → manusia → akal → qalb → ilmu → pengalaman → filsafat → perenungan → adat → syarak → kesadaran → tazkiyah → ibadah → Allah.

Namun semakin dekat manusia kepada kesadaran tentang Allah, seharusnya semakin kecil klaim tentang dirinya.

 Aku mengetahui bahwa aku tidak mengetahui hakikat-Mu.

Bukan nihilisme.

Bukan pula berhenti berpikir.

Melainkan ma'rifah yang melahirkan tawadhu'.

Sebab pada akhirnya manusia bukan pemilik kebenaran.

Ia adalah hamba yang sedang berjalan menuju Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.