Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

 Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.


Aku perlu membaca pikiranku untuk mengetahui bahwa akal memiliki batas. Aku membaca perasaanku untuk mengetahui bahwa hati dapat berubah. Aku membaca nafsuku untuk mengetahui bahwa keinginan tidak selalu menjadi kebenaran. Aku membaca tubuhku untuk mengetahui bahwa kekuatan mempunyai batas. Aku membaca pengalaman hidupku untuk mengetahui bahwa pengetahuan yang kumiliki tidak pernah sempurna. Mengetahui keterbatasan bukan berarti merendahkan diri. Justru dari sanalah kerendahan hati dan kebijaksanaan tumbuh. Sebab orang yang mengetahui batas dirinya tidak akan mudah berkata, “Aku paling tahu.” Ia akan lebih sering berkata:

“Aku belum tahu. Aku bisa keliru. Aku perlu belajar. Aku membutuhkan orang lain. Dan pada akhirnya, aku membutuhkan Allah.

Maka rangkaian perenungannya menjadi indah:

Membaca kehidupan untuk memahami manusia. Membaca manusia untuk memahami diriku. Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku. Mengetahui keterbatasanku untuk mengenal kebutuhanku. Dan mengenal kebutuhanku untuk semakin mengenal Tuhanku.

Di titik itu, keterbatasan bukan lagi kelemahan semata.

Keterbatasan menjadi pintu menuju kesadaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.