Siapakah Tuhan?
Siapakah Tuhan?.
Dalam perspektif Islam, pertanyaan "Siapakah Tuhan?" bukan sekadar pertanyaan tentang identitas. Ia adalah pertanyaan tentang asal, tujuan, dan ketergantungan seluruh keberadaan.
Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, pencipta dan pemelihara seluruh alam. Dia tidak diciptakan, tidak bergantung kepada sesuatu, sedangkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.
Al-Qur'an merangkum konsep ini dengan sangat padat:
> قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya." QS. Al-Ikhlas: 1–4.
Jika kita mengikuti perjalanan pemikiran yang tadi kita bangun.
Manusia mulai dari:
Membaca alam
→ menemukan keteraturan.
Membaca kehidupan
→ menemukan keterbatasan.
Membaca diri
→ menemukan bahwa dirinya tidak berdiri sendiri.
Membaca wahyu
→ memperoleh petunjuk tentang siapa Pencipta dan tujuan hidupnya.
Maka Tuhan dalam Islam bukan sekadar "kekuatan yang sangat besar di luar sana."
Allah adalah:
Al-Khāliq — Yang Maha Menciptakan.
Ar-Rabb — Yang memelihara dan mengatur.
Al-'Alīm — Yang Maha Mengetahui.
Al-Hayy — Yang Maha Hidup.
Al-Qayyūm — Yang menegakkan dan menopang seluruh keberadaan.
Al-Awwal — Yang Awal.
Al-Ākhir — Yang Akhir.
Az-Zhāhir dan Al-Bāthin — Yang Maha Nyata dan Yang Maha Tersembunyi.
Namun ada satu batas penting:
Allah dapat dikenal melalui nama, sifat, ayat, dan tanda-tanda-Nya, tetapi hakikat Zat-Nya tidak dapat sepenuhnya dijangkau oleh akal manusia.
Karena itu, semakin manusia mengenal Allah, seharusnya bukan semakin sombong dengan pengetahuannya, tetapi semakin sadar akan kebesaran Allah dan keterbatasan dirinya.
Dan di sinilah kalimat bro sebelumnya menemukan puncaknya:
Bukan "aku telah menemukan Tuhan", tetapi "aku menyadari bahwa sejak awal aku hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan; hanya saja kesadaranku yang perlahan belajar membaca tanda-tanda-Nya."
Akal bertanya siapa Tuhan.
Wahyu memberi petunjuk.
Qalb menerima dan menghayati.
Hikmah mengubah pengenalan itu menjadi kehidupan.
Maka pencarian Tuhan pada akhirnya juga menjadi perjalanan mengenal diri: semakin manusia mengetahui siapa dirinya sebagai makhluk, semakin jelas siapa Allah sebagai Al-Khāliq, Sang Pencipta.
Komentar
Posting Komentar