Aku membaca kehidupan, lalu menemukan ketetapan dan perubahan.

Aku membaca kehidupan, lalu menemukan ketetapan dan perubahan.

Aku membaca manusia, lalu menemukan kehendak, kelemahan, cinta, kesombongan, dan kerinduan.


Lalu pembacaannya dapat bergerak lebih dalam:


Aku membaca diriku, lalu menemukan bahwa semua itu juga hidup di dalam diriku.


Aku memiliki kehendak, tetapi kehendakku terbatas.

Aku memiliki kelemahan, tetapi sering menyembunyikannya.

Aku mengenal cinta, tetapi kadang mencampurkannya dengan kepemilikan.

Aku mengenal kesombongan, bahkan ketika merasa sedang mencari kebenaran.

Dan di balik semuanya, ada kerinduan yang tidak selalu mampu kujelaskan.


Mungkin kerinduan terdalam manusia bukan sekadar kepada sesuatu yang belum dimilikinya, melainkan kepada asal dari keberadaannya sendiri.


Maka membaca manusia akhirnya membawa manusia kepada pertanyaan tentang dirinya:


Siapakah aku, jika semua yang kumiliki dapat berubah?

Apa yang tetap ketika kehendakku terbatas, tubuhku melemah, dan hidupku berakhir?


Dan ketika sampai pada pertanyaan itu, pembacaan terhadap manusia mulai berubah menjadi pencarian kepada Tuhan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.