Dan siapakah aku sehingga merasa telah mengetahui?

Dan siapakah aku sehingga merasa telah mengetahui?”




Semakin manusia mengenal keterbatasan dirinya, semakin ia sadar bahwa pengetahuan tentang Allah tidak sama dengan kemampuan mengetahui hakikat Zat Allah.

Al-Qur’an menegaskan:

> وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu.”(QS. Taha 20:110).

Ini sangat dalam. Manusia dapat mengetahui tentang Allah, tetapi tidak mampu meliputi Allah dengan pengetahuannya.

Allah juga berfirman:

> لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura 42:11).

Maka dalam perjalanan spiritual, semakin jauh seseorang berjalan, seharusnya semakin rendah hati ucapannya:

Aku mengenal tanda-tanda-Nya, tetapi aku tidak menguasai hakikat-Nya.

Aku mengenal nama-nama dan sifat-Nya melalui wahyu, tetapi aku tidak meliputi Zat-Nya.

Aku merasakan kedekatan kepada-Nya, tetapi aku tidak berhak mengatakan telah memahami hakikat-Nya.

Aku beribadah kepada-Nya, tetapi aku tetap seorang hamba.

Dan di sinilah kalimat Anda menjadi sangat kuat:

 “Dan siapakah aku sehingga merasa telah mengetahui?”

Bukan berarti manusia tidak boleh mengenal Allah. Justru kita diperintahkan untuk mengenal-Nya melalui wahyu dan tanda-tanda-Nya.

Tetapi mengenal bukan berarti meliputi.

Itulah batas antara ma'rifah yang melahirkan kerendahan hati dan klaim pengetahuan yang membuat seseorang merasa telah sampai pada hakikat yang sebenarnya melampaui dirinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.