Fakta yang perlu di ubah dalam praktek taswuf
Wirid tarekat berada di titik pertemuan antara ibadah, tradisi, pengalaman spiritual, dan klaim tentang agama.
Di situlah pertanyaan muncul. Bukan berarti semua wirid tarekat salah, dan bukan pula berarti semua kritik terhadapnya benar.
Beberapa sebab utamanya:
1. Sumber wirid tidak selalu jelas.
Orang akan bertanya:
Dari Al-Qur'an atau hadis mana?.
Apakah hadisnya sahih, hasan, atau lemah?.
Siapa yang pertama mengajarkannya?Bagaimana sanad transmisinya? Apakah ia merupakan doa umum atau amalan khusus tarekat?
Jika sumbernya tidak dijelaskan, generasi kritis tentu mempertanyakannya.
2. Ada perbedaan antara dalil dan pengalaman.
Seorang murid mungkin berkata:
“Setelah wirid, saya merasakan ketenangan dan kehadiran spiritual.
Itu adalah pengalaman pribadi yang sah untuk diceritakan, tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis menjadi dalil bahwa tata cara wirid itu diwajibkan atau memiliki keutamaan tertentu bagi semua Muslim.
Di sinilah penting membedakan:
Saya mengalami, tidak semua orang wajib mempercayai.
3. Sebagian wirid menggunakan bahasa simbolik.
Dalam tasawuf terdapat istilah seperti:
dzauq, kasyf, fana', baqa', warid, tajalli, maqamat, ahwal.
Bahasa seperti ini bisa dipahami secara berbeda. Ketika bahasa pengalaman spiritual dibaca secara harfiah, orang dapat menganggapnya sebagai klaim faktual atau bahkan doktrin baru.
4. Karamah sering bercampur dengan riwayat.
Kisah wali, mimpi, pengalaman mursyid, kejadian luar biasa, atau cerita tentang keistimewaan suatu wirid kadang diwariskan secara lisan.
Masalahnya bukan bahwa karamah mustahil dalam perspektif Islam. Al-Qur'an sendiri memuat kisah-kisah luar biasa. Masalah ilmiahnya adalah:
Apakah kisah tertentu benar-benar terjadi dan apakah sumber sejarahnya dapat dipertanggungjawabkan?
Karamah sebagai konsep keagamaan berbeda dengan pembuktian sejarah suatu cerita tertentu.
5. Ada kekhawatiran terhadap penambahan dalam ibadah.
Sebagian ulama sangat berhati-hati terhadap bentuk-bentuk ibadah yang dianggap memiliki tata cara, jumlah, waktu, atau keutamaan khusus tetapi tidak memiliki dasar yang cukup kuat.
Karena itu mereka bertanya:
Apakah ini sekadar doa dan dzikir yang mubah.
atau.
Apakah sudah diklaim sebagai ibadah khusus dengan keutamaan tertentu?.
Ini perbedaan yang sangat penting.
6. Tarekat memiliki tradisi transmisinya sendiri.
Tarekat biasanya memiliki hubungan guru–murid, sanad, ijazah, baiat, dan tata cara tertentu.
Bagi pengamal tarekat, ini merupakan bagian dari kesinambungan tradisi.
Tetapi bagi peneliti atau generasi kritis, muncul pertanyaan:
Bagaimana sanad itu terbentuk? Bagaimana teks wirid berubah atau dipertahankan? Kapan praktik tersebut mulai muncul? Bagaimana hubungannya dengan tradisi Islam sebelumnya?
Pertanyaan seperti itu sebenarnya tidak harus dianggap sebagai penghinaan.
7. Kadang yang dipertanyakan bukan wiridnya, tetapi perilaku pengikutnya.
Ini juga harus dibedakan.
Kalau seseorang berwirid tetapi kemudian menjadi: sombong, merasa paling suci, mengkultuskan guru, menolak kritik, menganggap kelompoknya pasti benar, maka yang menjadi masalah bukan otomatis wiridnya, melainkan cara manusia memahami dan menjalankan tradisi tersebut.
Maka diperlukan tiga lapis pemeriksaan.
Menurut saya, ini sangat cocok dengan gagasan Anda sebelumnya:
Pertama: Teks
Apa bacaan wiridnya?
Apa sumbernya?
Apa maknanya?
Kedua:
Tradisi
Siapa yang mengajarkan?Bagaimana sanadnya?Sejak kapan diamalkan?Bagaimana praktiknya dalam sejarah?
Ketiga:
Klaim
Apa yang diklaim dari wirid tersebut?
Apakah hanya:
“Ini membantu kami berdzikir kepada Allah.
atau sudah menjadi:
“Siapa yang membaca ini sekian kali pasti memperoleh keadaan tertentu.
Semakin besar klaimnya, semakin besar pula kebutuhan pembuktiannya.
Kesimpulan
Jadi, kegiatan wirid tarekat banyak dipertanyakan bukan semata-mata karena orang membenci tasawuf, tetapi karena di dalamnya bisa terdapat beberapa lapisan yang harus dipisahkan:
Al-Qur'an dan hadis → ajaran ulama → tradisi tarekat → pengalaman spiritual → riwayat karamah → klaim keutamaan.
Kalau semua lapisan itu dicampur, kritik menjadi mudah berubah menjadi tuduhan.
Tetapi jika dipisahkan dengan jujur, kita bisa mengatakan:
Yang memiliki dalil, tunjukkan dalilnya.
Yang merupakan tradisi, sebut sebagai tradisi.
Yang merupakan pengalaman, sebut sebagai pengalaman.
Yang merupakan riwayat, teliti riwayatnya.
Yang merupakan klaim, uji klaimnya.
Dengan cara itu, tasawuf tidak perlu takut terhadap kritik dan kritik tidak perlu berubah menjadi fitnah.
Komentar
Posting Komentar