Zat Alloh SWT

Zat Allah berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.

Maka prinsip utamanya adalah: Allah benar-benar ada, memiliki Zat, tetapi Zat-Nya tidak dapat diserupakan dengan makhluk dan tidak dapat dijangkau oleh penglihatan atau akal manusia secara sempurna.

1. Allah tidak menyerupai apa pun.

QS. Asy-Syura 42:11

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.

Ini adalah prinsip yang sangat penting. Ketika berbicara tentang Zat Allah, kita tidak boleh membayangkan Allah seperti benda, manusia, cahaya fisik, ruang, atau makhluk lainnya.

2. Allah memperkenalkan diri-Nya.

QS. Al-Ikhlas 112:1–4

> قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Karena itu, Islam tidak mengajarkan manusia untuk mencari bentuk atau gambaran Zat Allah.

3. Penglihatan manusia tidak mampu meliputi Allah.

QS. Al-An'am 6:103

 لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan.”

Ini bukan berarti Allah “tidak ada” karena tidak terlihat. Justru ayat tersebut menegaskan keterbatasan makhluk dalam menangkap hakikat-Nya.

4. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa Allah tidak sama dengan makhluk.

Dalam hadis tentang penciptaan, Nabi ﷺ bersabda:

 كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Allah ada dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya.”

Riwayat ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dengan redaksi yang menunjukkan keazalian Allah.

Artinya, Allah bukan bagian dari alam dan bukan sesuatu yang muncul setelah alam.

5. Tetapi Allah dekat dengan manusia.

QS. Qaf 50:16.

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

 “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Ayat ini jangan langsung diterjemahkan bahwa Zat Allah berada di dalam tubuh manusia. Para ulama membahas “kedekatan” ini dalam kerangka ilmu tafsir dan akidah: kedekatan ilmu, pengawasan, kekuasaan, dan berbagai makna yang sesuai dengan kesempurnaan Allah.

6. Allah juga menyatakan berada di atas 'Arsy.

Misalnya:

QS. Thaha 20:5

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

 “Yang Maha Pengasih beristiwa di atas 'Arsy.”

Ayat-ayat sifat seperti ini harus dipahami dengan prinsip QS. Asy-Syura 42:11: Allah tidak menyerupai makhluk.

Di sinilah terdapat perbedaan metodologi di antara mazhab-mazhab teologi Islam dalam menjelaskan ayat-ayat sifat—misalnya antara pendekatan itsbat tanpa menyerupakan, tafwidh, dan ta'wil. Namun semuanya berangkat dari prinsip bahwa Allah tidak sama dengan makhluk.

Lalu bagaimana dengan pengalaman tasawuf?.

Ini sangat penting dengan pembahasan kita sebelumnya tentang wirid dan tazkiyah.

Seorang sufi dapat mengalami:

dzauq → khusyuk → muraqabah → rasa dekat kepada Allah → fana' → pengalaman batin tertentu.

Tetapi pengalaman tersebut tidak berarti ia telah melihat atau memahami Zat Allah secara hakiki.

Karena:

 Mengenal Allah tidak sama dengan mengetahui hakikat Zat Allah.

Manusia dapat mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, ayat-ayat-Nya, wahyu-Nya, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya, tetapi hakikat Zat Allah melampaui kemampuan makhluk.

Bahkan Nabi ﷺ bersabda dalam doa:

> لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Aku tidak mampu menghitung seluruh pujian kepada-Mu. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu.(HR. Muslim).

Maka batasnya menjadi jelas:

Allah ada → pasti.

Allah memiliki Zat → benar.

Allah memiliki nama dan sifat → berdasarkan wahyu.

Allah tidak menyerupai makhluk → pasti.

Manusia dapat mengenal Allah → melalui wahyu dan tanda-tanda-Nya.

Manusia dapat meliputi hakikat Zat Allah → tidak.

Karena itu, ketika seseorang dalam wirid mengatakan “aku mengenal Allah”, perlu ditanyakan terlebih dahulu: mengenal dalam arti apa? Jika maksudnya mengenal Allah melalui iman, nama, sifat, wahyu, dan penghayatan hati, itu memiliki dasar. Tetapi jika maksudnya telah mengetahui hakikat Zat Allah atau menyatu dengan Zat Allah, maka klaim tersebut harus diperiksa dengan sangat hati-hati karena bertentangan dengan prinsip “laysa kamitslihi syai'un” — tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku membaca dunia untuk memahami kehidupan.

Membaca diriku untuk mengetahui keterbatasanku adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.

Membaca kehidupan untuk memahami manusia” adalah sebuah cara pandang yang dalam.